|
 | | Sekretaris Utama BNP2TKI Edy Sudibyo menegaskan BNP2TKI sangat mengapresiasi kerjasama yang selama ini telah terjalin dengan pengusaha di Korea Selatan. "Kehadiran para pengusaha Korea Selatan dalam pertemuan Thank You Sajangnim menunjukkan sikap keseriusan pengusaha Korea Selatan dalam berpartner dengan BNP2TKI pada khususnya dan Pemerintah Indonesia pada umumnya," katanya. | BNP2TKI, Seoul (10/11) - BNP2TKI sangat menghargai antusiasme pengusaha Korea Selatan yang selama ini telah memberdayakan Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Hal ini terbukti dengan kehadiran mereka dalam acara "Thank You Sajangnim" yang diselenggarakan oleh Deputi Kerjasama Luar Negeri dan Promosi di Hotel Renaissance, Seoul, Rabu malam (9/11).Sekretaris Utama BNP2TKI Edy Sudibyo menegaskan BNP2TKI sangat mengapresiasi kerjasama yang selama ini telah terjalin dengan pengusaha di Korea Selatan. "Kehadiran para pengusaha Korea Selatan dalam pertemuan Thank You Sajangnim menunjukkan sikap keseriusan pengusaha Korea Selatan dalam berpartner dengan BNP2TKI pada khususnya dan Pemerintah Indonesia pada umumnya," katanya. Pemerintah Indonesia melalui BNP2TKI juga berharap Korea Selatan dapat memperluas cakupan sektor bidang kerja TKI, tak hanya kualitas dan kuantitas jumlah TKI. Dari sekitar 30 ribu TKI di Korea Selatan, katanya, hingga saat ini TKI sudah menempati berbagai sektor di Korea Selatan. Pada akhir Bulan Juli 2011 sekitar 24.373 TKI bekerja di sektor manufaktur, 352 di sektor konstruksi , 102 sektor perkebunan dan 1289 di sektor perikanan dan jasa. Penempatan TKK melalui program kerjasama antarpemerintah (G to G) kedua negara telah dimulai sejak tahun 2001 hingga sekarang , dengan rata rata kuota sebesar 9.000 per tahun. TKI telah tersebar di beberapa wilayah di Korea yakni di Ansan, Suwon, Bucheon, Taegu, Taejo, Uijengbu, Ulsan dan Busan. Menurut Edi Sudibyo, perkembangan yang luar biasa terjadi di Korea Selatan selama 30 tahun terakhir di bidang industri otomotif dan elektronik seperti Hyundai, KIA dan Samsung yang telah menyaingi Jepang di Asia dan mampu mengimbangi perkembangan industri di Amerika dan Eropa, mengakibatkan kebutuhan tenaga kerja di negeri gingseng itu semakin meningkat, khususnya terhadap kebutuhan tenaga asing seiring berkurangnya tenaga kerja lokal di Korea Selatan. "Forum Thank You Sajangnim diharapkan dapat meningkatkan kerjasama bilateral terutama kerjasama di sektor manufaktur. Bahkan kita berharap dapat dikembangkan di sektor perawat ataupun sektor lainnya," kata Sestama. Kepada para pengusaha Korea Selatan yang telah memberdayakan TKI, Sestama BNP2TKI memberikan apresiasi yang tinggi atas perlindungan TKI di Korea Selatan. "Oleh karenanya, kami berharap bisa segera menempatkan tenaga perawat profesional kami di negeri ini," katanya. Dikatakan saat ini pemerintah Indonesia mulai mencoba mengisi pasar di negara negara maju seperti Amerika, Australia dan Jepang untuk sektor perawat. Perawat Indonesia sudah mulai bekerja di luar negeri sejak tahun 80-an di berbagai negera seperti Kuwait, Uni Emirat Arab, Taiwan dan Belanda. Kebanyakan mereka bekerja di rumah sakit atau pelayanan kesehatan untuk orang tua atau orang jompo. (Toha/b) |