Wednesday, 21 August 2019

Berita

Berita Utama

RAPAT PERSIAPAN PELAKSANAAN PILOT PROJECT PENYIAPAN TENAGA KERJA TERAMPIL BAGI SISWA SMK KE KOREA

-

00.08 13 August 2019 270

Foto bersama usai Rapat, Kedeputian Kerjasama Luar Negeri dan Promosi BNP2TKI, Selasa (13/8/2019)

Jakarta, BNP2TKI, Selasa (13/8/2019)___Direktorat Pemetaan dan Harmonisasi Kualitas TKLN I telah melaksanakan rapat persiapan pelaksanaan pilot project penyiapan tenaga kerja terampil bagi siswa SMK di 3 lokasi (Indramayu, Cilacap, dan Ponorogo). Rapat ini dilaksanakan di Ruang Rapat Kepala Badan Lt.2, BNP2TKI, Jakarta, Selasa (13/8/2019). Pilot project ini bertujuan untuk menyiapkan para siswa SMK kelas 3 agar terampil berbahasa korea serta lulus ujian EPS-TOPIK. Adapun lokasi pelaksanaan pilot project ditentukan di 3 SMK, yaitu SMKN 1 Losarang Indramayu, SMKN 2 Cilacap, dan SMK PGRI 2 Ponorogo.

Rapat ini dipimpin oleh Deputi Kerjasama Luar Negeri dan Promosi, drg. Elia Rosalina Sunityo, MARS, MKK didampingi oleh Direktur Pemetaan dan Harmonisasi Kualitas TKLN I, Ibu Seriulina Tarigan, SE, dihadiri oleh Kim Kimyoung, Deputi Director Indonesia EPS Center HRD Korea, perwakilan Direktorat Pembinaan SMK, pewakilan dari SMKN 1 Losarang Indramayu, SMKN 2 Cilacap, SMK PGRI 2 Ponorogo, serta perwakilan Direktorat Pelayanan Penempatan Pemerintah BNP2TKI. Rapat ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan sosialiasi peluang kerja luar negeri bagi lulusan SMK ke Korea Selatan melalui skema g to g yang telah dilaksanakan pada tanggal 30 Juli s.d. 1 Agustus 2019 di 3 SMK yang ditunjuk untuk pelaksanaan pilot project.

Dalam sambutannya, Ibu Elia menyampaikan bahwa rapat ini merupakan forum bertukar pikiran antara pihak HRD Korea, Kemdikbud, BNP2TKI dan SMK guna membahas lebih lanjut persiapan pelaksanaan pilot project agar para lulusan SMK nantinya dapat terserap di pasar kerja luar negeri, khususnya pada program g to g ke Korea Selatan. Ditambahkan pula bahwa dalam rapat ini perlu disiapkan beberapa standarisasi, antara lain terkait kurikulum yang sesuai dengan peluang kerja, pemilihan peserta, instruktur, persyaratan kerja ke Korea Selatan, proses bisnis, serta pelaksanaan harmonisasi kompetensi.

Direktur Pemetaan dan Harmonisasi Kualitas TKLN I,Seriulina Tarigan, menambahkan bahwa terdapat beberapa poin penting yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pilot project ini, yaitu: mekanisme seleksi peserta pelatihan (usia minimum 18 tahun, kesiapan mental dan fisik, ijin orang tua, jurusan yang selaras dengan manufacture atau fishing, dll yang mengacu pada syarat bekerja ke Korea), instruktur/pengajar yang kompeten, lokasi tempat belajar, lama waktu pelatihan, kurikulum dan modul pelatihan. 

Sementara itu, Deputi Director Indonesia EPS Center, Kim Kimyoung, menyampaikan bahwa pihak HRD Korea mendukung penuh pilot project ini. Buku pelajaran akan disediakan untuk digunakan dalam pelatihan ini dengan meminta pihak Kemendikbud menyampaikan surat permohonan kepada HRD Korea di Jakarta. Disampaikan juga oleh beliau saat ini, pihak HRD Korea bekerjasama dengan KOICA akan membantu memberikan bantuan tenaga pengajar dan buku pelajaran di 10 sekolah di Jawa Tengah. Ke depan, bantuan ini akan dikembangkan ke beberapa wilayah lainnya.

Kasubdit Penyelasan Kejuruan dan Kerjasama Industri, Direktorat Pembinaan SMK Kemdikbud, Bapak Saryadi menyampaikan bahwa struktur penganggaran untuk pilot project ini berbeda-beda di tiap wilayah. Cilacap dianggarkan untuk 40 orang peserta, Indramayu 70 orang peserta, dan Ponorogo 50 orang peserta. Ditambahkan pula bahwa pilot project ini merupakan waktu yang tepat guna penyelarasan kurikulum SMK sesuai dengan permintaan pasar kerja luar negeri, baik dalam hal kompetensi teknis (skill) maupun kemampuan bahasa asing. Seluruh biaya pilot project di 3 lokasi tersebut dibiayai oleh anggaran Direktorat Pembinaan SMK, Ditjen Dikdasmen, Kemendikbud.**(Humas)