Friday, 20 September 2019

Berita

Berita Utama

BP3TKI Tanjungpinang Terima 40 Orang PMI Deportasi Dari KJRI Johor Bahru Malaysia Dan Pulangkan Satu Orang PMI Sakit Asal Sukabumi

-

00.07 11 July 2019 343

-

Tanjung Pinang, BNP2TKI (11/07) - - - Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Tanjung Pinang bersama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor pada hari Senin siang (8/7) tepat pukul 12.00 WIB, sebuah kapal pembawa PMI Deportasi dari Malaysia, merapat di ponton Pelabuhan Internasional Batam Center, Kota Batam. Kapal tersebut telah disewa oleh KJRI Johor Bahru untuk mengangkut 40 orang Warga Negara Indonesia yang mengalami pengusiran atau deportasi oleh Jawatan Imigresen Malaysia, dikarenakan permasalahan utama yakni bekerja d Malaysia tanpa izin dan dokumen yang dipersyaratkan.

Setelah kapal merapat, tim pelayanan PMI bermasalah BP3TKI Tanjungpinang, yang diturunkan dari personil P4TKI Batam langsung menyambut kedatangan para PMI, dan membawa ke ruangan pemeriksaan imigrasi, untuk diperiksa dan diproses oleh pihak Imigrasi Pelabuhan Batam Center. Setelah lebih kurang satu jam diperiksa dan diwawancarai oleh Imigrasi, akhirnya seluruh deportan diserahkan kepada BP3TKI Tanjungpinang untuk dibawa ke kantor P4TKI Batam yang terletak di Ruko Imperium Kawasan Batam Center, untuk diproses lebih lanjut.

Sesampainya di Kantor P4TKI Batam, seluruh deportan langsung didata, yang bertujuan untuk pemrosesan fasilitasi pemulangan ke daerah asal atau diserahterimakan kepada keluarga. Dari data yang dikumpulkan petugas, diketahui bahwa kebanyakan dari PMI deportasi tersebut berasal dari Provinsi Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat, seperti yang sudah-sudah sebelumnya. Selain dari dua Provinsi tersebut, juga terdapat PMI deportasi asal Aceh, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah hingga ke Sulawesi Selatan.

Koordinator P4TKI Batam, Titi Delima yang berada di lokasi mengatakan bahwa nantinya, seluruh deportan akan ditampung terlebih dahulu di shelter PMIB P4TKI Batam. Titi mengatakan untuk PMI yang mengaku memiliki keluarga yang berdomisili di sekitar Batam, akan dipersilakan untuk dijemput oleh keluarga, namun sebelum itu, terhadap PMI akan dilakukan pembinaan dan sosialisasi serta pemahaman mengenai bahaya bekerja secara nonprosedural dan pentingnya mengurus dokumen resmi dan mengikuti prosedur yang benar dalam bekerja ke luar negeri.

“Tentunya keluarga yang menjemput juga akan kami mintai dan verifikasi dokumen pendukung yang menyatakan bahwa memang mereka adalah keluarga dari PMI. Selain itu pihak keluarga juga akan diberikan pemahaman agar mau membina PMI tersebut supaya tidak lagi bekerja ke luar negeri secara nonprosedural, termasuk keluarga harus menandatangani surat pernyataan akan bertanggungjawab sepenuhnya kepada PMI. Tanpa itu semua, secara prosedur kami tidak bisa menyerahkan PMI kepada pihak keluarga” tutur Titi memberikan penjelasan.

Kepala BP3TKI Tanjungpinang Mangiring Sinaga menambahkan, setelah jajarannya melakukan pendataan, dan melakukan in depth, diperoleh data bahwa sebagian PMI memang akan dijemput oleh pihak keluarga. Sedangkan bagi PMI yang tidak dijemput keluarga, akan diberikan fasilitasi pemulangan oleh BP3TKI Tanjungpinang ke daerah asal PMI, berkoordinasi dengan BP3TKI di daerah asal PMI.

Koordinasi dengan BP3TKI daerah asal kata Mangiring sangat penting dan mutlak dilakukan. Hal ini bertujuan agar PMI yang sudah kita pastikan keberangkatannya, juga bisa dipastikan datang dan sampai di Bandara di daerah asal mereka. Setelah itu, BP3TKI daerah asal juga dapat memproses pemulangan PMI kepada pihak keluarga yang telah menanti di kampung halaman.

Saat dimintai pendapatnya terhadap para deportan, Mangiring mengaku sangat iba dan kasihan, sekaligus miris. Kasihan sebab, pada faktanya PMI yang dideportasi sebagian besar telah mengalami berbagai permasalahan dan perlakuan yang tidak menyenangkan, baik selama bekerja, maupun selama di dalam tahanan Imigresen Malaysia. Namun di sisi lain, Ia merasa miris sebab dengan fakta tersebut yang sudah banyak diekspos di berbagai media, namun masih saja tetap banyak calon PMI yang tetap tergoda untuk mencoba bekerja ke luar negeri menggunakan jalur tikus atau non prosedural, yang nantinya berakhir dalam deportasi.

“Ini ibarat siklus atau rantai setan yang tidak pernah putus hingga saat ini. Namun begitu, tentunya kita terus berharap ke depannya suatu saat, apabila tata kelola permasalahan ketenagakerjaan di negara kita sudah mencapai level ideal, rantai setan ini bisa kita putus. Saat ini satu-satunya hal yang bisa menggembirakan hati para pahlawan devisa yang terkena deportasi tersebut hanyalah dengan membesarkan hati mereka melalui pelayanan yang humanis. Setidaknya dengan demikian mereka bisa tersenyum kembali dan menatap masa depan dengan lebih baik” ujar Mangiring sambil berharap.

Sementara itu, dua hari sebelumnya, Sabtu (6/7) BP3TKI Tanjungpinang juga memberikan fasilitasi pemulangan kepada satu orang PMI sakit ke kampung halamannya di Sukabumi, Jawa Barat. Bermula dari informasi yang diperoleh dari Komunikasi Organisasi Pekerja Migran Indonesia (KOMI) Johor Bahru, BP3TKI Tanjungpinang menerima satu Orang PMI sakit yang bernama Isop (49). Isop diketahui mengalami sakit setelah bekerja beberapa tahun di Malaysia. Ia menderita diabetes yang cukup akut, sehingga KOMI dan KJRI Johor Bahru memulangkannya kembali ke Indonesia.

Isop sampai di Batam, dan langsung diterima oleh P4TKI Batam pada hari Jumat (5/7). Ia sempat diinapkan semalam di shelter P4TKI Batam, sebelum kemudian keesokan harinya dilakukan pemulangan ke Sukabumi, melalui Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. Pemulangan Isop didampingi oleh satu orang petugas BP3TKI Tanjungpinang, sehubungan dengan kondisi PMI yang cukup lemah dikarenakan penyakit yang dideritanya. Sesampainya di Bandara Soekarno Hatta, Isop diterima oleh tim BP3TKI Serang, yang sebelumnya telah dikontak dan berkoordinasi dengan BP3TKI Tanjungpinang. Pada hari itu juga, Isop langsung diantar menuju Sukabumi untuk diserahkan kepada pihak keluarga. (BP3TKI Tanjungpinang/Irf)