Friday, 20 September 2019

Berita

Berita Utama

BP3TKI Tanjungpinang Fasilitasi Pemulangan PMI Dengan Gangguan Kejiwaan ke Yogyakarta

-

00.09 9 September 2019 98

BP3TKI Tanjungpinang saat Memfasilitasi Pemulangan PMI atas nama Sri Handayani

Tanjung Pinang, BNP2TKI (9/9) - - Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Tanjungpinang kembali memfasilitasi pemulangan satu orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) bermasalah bernama Sri Handayani Setiyarsih yang mengalami gangguan kejiwaan ke daerah asalnya. Sri Handayani dipulangkan ke kampung halamannya di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada hari Sabtu (31/8/2019) yang lalu.

Proses pemulangan Sri Handayani, berawal dari informasi yang disampaikan oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru pada tanggal 29 Agustus 2019 kepada BP3TKI Tanjungpinang perihal pemulangan Sri Handayani yang mengalami gangguan kejiwaan dari Johor menuju Tanjung Pinang. Sri Handayani kemudian dibawa ke Tanjung Pinang pada tanggal 30 Agustus 2019 dengan didampingi oleh petugas dari KJRI Johor Bahru hingga sampai ke Pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura, Tanjung Pinang. Di pelabuhan, Sri Handayani diserahterimakan kepada BP3TKI Tanjungpinang, yang kemudian berkoordinasi dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan Kementerian Kesehatan untuk mendapatkan assesment mengenai kondisi kesehatan dari Sri Handayani.

Setelah dilaksanakan pemeriksaan, dengan hasil kesehatan Sri Handayani yang cukup fit dan cukup baik secara mental, Sri Handayani kemudian ditampung pada shelter Pekerja Migran Bermasalah (PMIB) milik BP3TKI Tanjung Pinang di Jalan Nusantara KM.13 Kota Tanjungpinang. Menurut informasi yang diperoleh dari KJRI Johor Bahru, sebelumnya Sri Handayani telah mendapatkan perawatan medis khusus kejiwaan selama berada dalam penampungan KJRI Johor Bahru, sehingga saat diterima oleh BP3TKI Tanjung Pinang, Sri Handayani sudah mampu berkomunikasi dengan baik dengan petugas.

Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan Tenaga Kerja Indonesia BP3TKI Tanjungpinang, Yohan Mariana, menyatakan bahwa ia sendiri telah mencoba berkomunikasi dengan Sri Handayani, sesampainya Sri Handayani di shelter. Dari komunikasi yang ia lakukan, Yohan berpendapat bahwa Sri Handayani sudah cukup stabil dan sudah mampu berkomunikasi dengan cukup baik. Namun demi keamanan dan bentuk tangung jawab dalam pemulangan, Sri Handayani tetap mendapatkan pendampingan oleh salah seorang petugas BP3TKI Tanjung Pinang.

Yohan menambahkan, pemulangan sendiri dilaksanakan pada Sabtu (31/8/2019) menggunakan transportasi udara. Pelaksanaan pemulangan Sri Handayani dilakukan berkoordinasi dengan BP3TKI daerah asal, yakni BP3TKI Yogyakarta. Sri Handayani sampai di Bandara Adi Sucipto Kota Yogyakarta pada sore hari pukul 17.00 WIB, dan kedatangannya sudah ditunggu oleh pihak keluarga yang didampingi oleh petugas dari  BP3TKI Yogkakarta. Dari Bandara, Sri Handayani kemudian diantarkan menuju kediaman keluarga di Desa Plaosan, Kecamatan Prambanan, Sleman, dan kemudian secara simbolis diserahterimakan kepada pihak keluarga disaksikan oleh unsur pemerintahan tingkat RT/RW setempat.

Menanggapi fasilitasi pemulangan Sri Handayani, Kepala BP3TKI Tanjung Pinang, Mangiring Sinaga mengucapkan rasa leganya dikarenakan Sri Handayani dapat dipulangkan ke daerah asal dengan lancar tanpa kendala yang berarti. Sebab, menurut penuturan pria yang disapa dengan “Pak Naga” tersebut, kerap kali PMI dengan gangguan kejiwaan yang ditangani oleh BP3TKI Tanjungpinang harus membutuhkan treatment khusus dalam pemulangan. Beberapa treatment yang pernah dilakukan menurutnya antara lain, perawatan khusus selama beberapa waktu di Rumah Sakit yang memiliki bangsal perawatan kejiwaan, pemberian obat-obatan khusus yang bersifat melemahkan otot sehingga mengurangi perilaku agresif dan pendampingan khusus dari dokter spesialis kejiwaan serta perawat khusus dari Rumah Sakit. Semua treatment tersebut pernah dilakukan oleh jajarannya, dalam memfasilitasi pemulangan PMI dengan gangguan kejiwaan. Namun meskipun begitu, Sinaga mengatakan apapun alasannya, treatment apa saja yang positif dan bermanfaat (bagi PMI dengan gangguan kejiwaan) akan dilakukan oleh jajarannya, demi memenuhi tanggung jawab dan sebagai bentuk profesionalitas dalam bekerja.

“Kita bersyukur PMI atas nama Sri Handayani sudah sampai dengan selamat ke kampung halaman tanpa kesulitan yang berarti, namun ke depannya kita tetap harus siap dengan berbagai jenis permasalahan PMI yang akan dihadapi. Semuanya pasti bisa dipenuhi, asal dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, profesional dan penuh rasa tanggung jawab” tutup Sinaga sambil mengingatkan jajarannya. ** (BP3TKI Tanjungpinang/Irf) Editor : Ulv.